Tradisi Tadarus di Keraton Kasepuhan
Tradisi Tadarus di Keraton Kasepuhan
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris
Shalat Isya dan shalat Tarawih baru saja selesai ditunaikan, Selasa
(22/5)malam. Lantunan ayat-ayat suci Alquran pun langsung terdengar dari
Langgar Alit Keraton Kasepuhan Cirebon. Kesyahduan bacaan firman Allah
SWT itu terdengar khusyuk,menghidupkan malam bulan suci Ramadhan di
keraton peninggalan Sunan Gunung Jati tersebut.
Tadarus
di dalam Langgar Alit itu dilakukan oleh kaum dan keluarga Keraton
Kasepuhan. Setiap dari mereka masing-masing membaca Alquran. Meski
membaca Alquran masing-masing, namun mereka secara bersama-sama akan
mengkhatamkannya selama 15 hari.
Baca juga info : kursus
bahasa inggris di al azhar pare
Tadarus
selama bulan Ramadhan memang sudah menjadi tradisi yang tak
boleh ditinggalkan oleh para kaum dan keluarga Keraton Kasepuhan Cirebon.
Membaca Alquran dan memperbanyak ibadah lainnya itu menjadi cara mereka
untukmenghidupkan malam Ramadhan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Usai
bertadarus, kaum dan keluarga keraton akan disuguhi kolak waluh untuk
dimakan bersama-sama. Kolak waluh merupakan salah satu kuliner khas saat
Ramadhan di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris mudah
Tak
hanya di Langgar Alit, tadarus selama bulan Ramadhan juga dilakukan
diMesjid Agung Sang Cipta Rasa, yang hanya berjarak sekitar 100 meter
dariLanggar Alit Keraton Kasepuhan. Di masjid yang dibangun para Wali
Sanga sejak ratusan tahun lalu itu, tadarus dilakukan oleh kaum masjid
dan masyarakat umum.
Selain tadarus, tradisi lain
yang dilakukan Keraton Kasepuhan di malam bulan Ramadhan adalah tradisi
maleman. Tradisi itu dilakukan pada 20 Ramadhan hingga 29 Ramadhan.
Tujuannya, untuk menyambut malam Lailatul Qodar.
Tradisi
maleman ditandai dengan penyalaan dlepak danpembakaran ukup setiap
malam tanggal ganjil bakda Maghrib. Dlepak merupakanpiring yang terbuat
dari tembikar dan diisi dengan minyak maleman untuk menyalakansumbu dari
kapas yang sudah dipilin.
Minyak maleman itu
terbuat dari minyak kelapa yang digodok kembali dengan tambahan kembang
tujuh rupa. Karenanya, minyak tersebut akan menyebarkan aroma yang
sangat harum saat sumbu dinyalakan.
Sedangkan ukup
adalah wewangian yang dibuat dari campuran pohon cendana, akar wangi,
gulamerah, sejumlah rumput kering, dan rempah-rempah. Untuk membakarnya,
ukup cukup ditebarkan di atas bara api yang biasanya dinyalakan dalam
tungku.
Baca
juga info : daftar kursus kampung inggris pare
Pembuatan hajat maleman itu dilakukan oleh
ibu-ibu keraton, dengan dipimpin oleh Permaisuri RAS Isye Natadiningrat.
Selanjutnya, semua perangkat tersebut dibawa dengan menggunakan gerbong
dari Keraton Kasepuhan ke Astana Gunung Jati Cirebon.
"Dikirim
ke Astana Gunung Jati untuk dinyalakan setiap malam ganjil di makam
Sunan Gunung Jati (paling atas) sampai ke bawah makam sultan-sultan,
terang Sultan Sepuh.
Menurut Sultan, melalui tradisi
itu umat Islam diingatkan untuk lebih banyak terjaga(tidak tidur) pada
malam hari untuk menyambut malaikat turun ke bumi membawa rahmat. Umat
Islam pun harus memperbanyak ibadah dan diharapkan memiliki hatiyang
bersih dan terang. Dengan cara itu, maka bisa menebarkan keharuman
atau manfaat bagi banyak orang.

Comments
Post a Comment